Postingan

Resensi film “Cek Toko Sebelah”

Resensi film “Cek Toko Sebelah” IDENTITAS FILM Judul: Cek Toko Sebelah Genre: Drama Komedi Produser: Chan Perwez Servia Sutradara: Ernest Prakasa Penulis Skenario: Ernest Prakasa Pemain: Ernest Prakasa, Dion Wiyoko, Chew Kin Wah, Gisella Anastasia, Andini Wirasti Rumah Produksi: Starvision Plus  SINOPSIS FILM Berawal dari sebuah keluarga yang mempunyai dua anak laki-laki yaitu Yohan(Dion Wiyoko) dan Erwin (Ernest Prakasa), mereka mempunyai ayah bernama Koh Afuk (Chew Kin Wah). Koh Afuk adalah pemilik toko sembako yang sukses, Erwin anak keduanya adalah seorang pemuda yang mempunyai karier gemilang, ia juga mempunyai kekasih yang cantik dan tak kalah sukses darinya, yaitu Natalie (Gisella Anastasia). Sedangkan Yohan anak pertama yang sudah mempunyai istri Ayu (Andini Wirasti) nasibnya tak sebaik Erwin, dia kerap tersandung masalah sehingga membuat hubungannya dengan sang ayah sedikit tidak harmonis. Awal permasalahan dimulai ketika Koh Afuk sakit-sakit...

Modernisasi Pesantren Tradisional ke Modern

Modernisasi Pesantren Tradisional ke Modern    Pesantren adalah lembaga pendidikan yang menyediakan asrama sebagai tempat tinggal para santri di bawah asuhan kiai. dalam pesantren mendidik santri untuk hidup kesederhanaan. Pengajara pesantren lebih memfokuskan pada pengajaran agama dengan menerapkan metode pengajaran tradisional, dan di dalamnya terdapat aturan-aturan, administrasi, dan kurikulum pengajaran yang khas. Tercapainya suatu tujuan pesantren  tergantung dari orang yang mendiami seperti kyai, santri, ustad, dan sebagainya. Jadi, ada kererkaitan antara satu dengan yang lain untuk mencapai suatu tuju. Hal tersebut kiai sebagai subjek utama pesantren.     Seorang kiai sering diidentikkan dengan istilah kepemimpinan nonformal, Dimana legitimasi kepemimpinan berdasarkan atas pengakuan masyarakat yang bersumber pada keahlian dibidang ilmu keagamaan, kewibawaan, kepribadian serta keturunan yang dimilikinya. Kiai tampil di tengah masyarakat dengan ...

Kriteria Berbahasa

BERBAHASA BAIK ATAU BERBAHASA BENAR ! Berbahasa, ya itu adalah sebuah alat hubung manusia supaya bisa berkomunikasi. Maksudnya berbahsa adalah sebuah ucapan manusia supaya supaya bisa saling mengerti dan melakukan komunikasi. Selain itu, berbahasa baik dan benar adalah sebuah tatacara untuk mempermudah sesorang untuk mengerti bahasa kita. Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan dan pemikiran yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain.  Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu, seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya, kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar atau luas...

Jurus Jitu Melawan Homesick

8 Cara yang Dilakukan Saat Homesick Melanda Bagi sebagian besar mahasiswa perantau, santri pondok, anak kos, atau seseorang yang baru pindah tempat, pasti kalian pernah mengalami yang namanya homesick. Apakah itu ? Homesick adalah perasaan di mana kita merasakan rindu yang sangat hebat akan kampung halaman, rumah, dan orang tua. Homesick menurut Dijkstra dan Hendrik (1983) adalah keadaan normal manusia, yang dicirikan dengan emosi tertekan keluhan fisik, dan pemikiran mendalam soal lingkungan yang akrab atau orang-orang terdekat. Perasaan ini dapat menyebabkan rasa galau, tubuh terasa lemas, lemah, malas makan, dan tidak konsentrasi saat belajar atau bekerja. Tentu saja hal ini merugikan. Bagi yang pernah mengalami, coba ingatlah betapa sesak di dada menahan rindu akan rumah beserta orang-orang terkasih, dan ujung-ujungnya tangislah yang menjadi pelipur lara. Apabila homesick  tidak segera diatasi, maka segala aktivitas akan terganggu akibat perasaan sensitif dan baper, oleh...

Luka Tuhan

Tamparan Tuhan Terbentang langit Di Cakrawala Terhias gemerlap Surya di atas kepala Tetbalut tawa di balik awan yang memerkah Lampu terang tanpa kesulitan Lampu terang sebagai kawan              Dengan sekejab mata kau jadikan              Dimana langit dan bumi terpenuh              Segala yang kau cari Namun Oleh manusia serakah yang selalu menadahkan upah Sang pencipta Jagat Raya Manusia yang hanya mencari hakikat kehidupan               Mereka huncam dunia dengan dusta               Dikeruknya dengan tawa  Tanpa menghiraukan luka apa yang akan diterima

Puisi Rahasia Tuhan

Ketika Tuhan Menyapa Begitu indah ciptanya, Begitu permai kuasanya Beribu ribu kemewahan telah Dia suguhkan Berbagai keindahan telah Dia sajikan Bak Burung dalam sangkarnya kita terpenjara dalam bermacam kemegahan yang ada tak pernah terblesit dalam hati apa yang terjadi bila Allah telah menjulurkan tangannya apa yang terjadi bila Allah telah membentangkan kehendaknya Manusia hanyalah sebutir debu yang mudah untuk diterbangkan yang rimgan untuk dipora porandakan Dengan keniscayaan yang telah ditanam  Dengan sekejap mata Allah menghabiskan Disitulah manusia akan tahu bagaimana kebesaran Allah sebenarnya manusia akan berbondong bondong memohon meminta dan meraung dalam kehancurannya Tetesan keruh tak lagi mampu tuk menyejukan hanya akan menghujam dalam deraian kepiluan yang membisu Tak ada lagi yang dapat dilakukan selain deraiyan dan tangisan kebekuan

Psikologi Sastra

Psikologi Sastra Menurut Endraswara (Minderop, 2011; 59), psikologi sastra adalah sebuah interdisiplin antara psikologi dan sastra. Daya tarik psikologi sastra adalah pada masalah manusia yang melukiskan potret jiwa. Tidak hanya jiwa  sendiri yang muncull dalam sastra, tetapi juga bisa mewakili jiwa orang lain. Setiap pengarang kerap menambahkan pengalaman sendiri dalam karyanya dan pengalaman pengarang itu serin pula dialami oleh orang lain. Sedangkan, Menurut Rene Wellek dan Austin Warren (dalam Kutha, 2013:61) menunjukkan empat model psikologis, yang dikaitkan dengan pengarang, proses kreatif, karya sastra, dan pembaca. Meskipun demikian, pendekatan psikologis pada dasarnya berhubungan dengan tiga gejala utama, yaitu pengarang, karya sastra, dan pembaca. Dengan pertimbangan bahwa pendekatan psikologis lebih banyak berhubungan dengan pengarang dan karya sastra. Jika perhatian ditujukan pada pengarang maka model penelitiannya lebih dekat dengan pendekatan ekspresif, sebaliknya ...