Teori Kritik Sastra Indonesia Modern

A. Sejarah Kritik Sastra Indonesia
Ketika bangsa Belanda menjajah Indonesia pada abad XX, barulah masyarakat Indonesia mengenal pendidikan. Tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap sistem pendidikan di Indonesia yang menggunakan sistem pendidikan ala Eropa. Sistem tersebut mempengaruhi pula dalam perkembangan kritik sastra. Seperti yang diungkapkan oleh Hardjana (19991:6) bahwa kritik sastra baru dikenal setelah para sastrawan Indonesia yang memperoleh pendidikan berdasarkan sistem Eropa. Hal ini menunjukan bahwa kritik sastra bukan merupakan tradisi untuk kehidupan sastra di Indonesia. Sebelum itu penilaian atas karya sastra hanya terbatas pada karya sastra yang diterbitkan dalam bahasa daerah. karya-karya tersebut dihubungkan dengan kepercayaan, agama, dan mistik.
Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan kritik sastra di Indonesia tidak dapat terlepas dari pengaruh politik di Indonesia. Oleh karena itu untuk memahami kritik sastra Indonesia juga harus memahami perkembangan sastra Indonesia yang tidak terlepas dari latar belakang sosial budaya yang akan mempengaruhi kelahiran kritik sastra Indonesia.
Diungkapkan oleh Asriningsari (2013:35) bahwa gambaran keadaan kritik sastra di Indonesia tidak terlepas dari gambaran kehidupan sastra Indonesia. Pada awal kelahirannya kritik sastra diawali oleh sastrawan-sastrawan daerah, berbentuk tembang dan cenderung dianggap tidak bernilai sastra. Para sastrawan di Indonesia mendapat pengaruh dari kelompok sastrawan Pergerakan 80 yang membuat cerita prosa dan berkembang pesat serta di muat dalam surat-surat kabar. Namun karena karya yang ditulis dalam bahasa Melayu maka karya-karya tersebut dikesampingkan dan kurang diakui sebagai karya sastra yang bermutu. Para sastrawan mulai melancarkan penilaian yang keras terhadap sastra yang dianggap tradisional dan bermaksud mengadakan pembaharuan sebagai bentuk pancaran kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Hal ini ditunjukkan dengan terbitnya majalah Pujangga Baru tahun 1933.
Pada perkembangan selanjutnya pada sekitar tahun 1930-an dapat dijumpai tokoh-tokoh misalnya M. Yamin, Rustam Effendi, ST Alisjahbana, Sanusi Pane, Armijn Pane, JE. Tatengkleng, HB Jassin dan lain-lain. Mereka merupakan tokoh-tokoh pengarang yang merupakan pemikir sastra Indonesia yang telah memberikan konsep-konsep sastra demi perkembangan sastra Indonesia. Tokoh-tokoh ini dijumpai pada kelompok sastrawan pada masa Pujangga Baru.
Oleh Baribin (1987: 28-24) diungkapkan bahwa dalam sejarah kritik sastra di Indonesia pernah tumbuh beberapa perbincangan tentang berbagai masalah, antara lain sebagai berikut:
1. Masalah seni untuk seni atau seni untuk masyarakat, yang berkembang dari tahun 1936-1966.
2. Masalah orientasi ke Barat atau ke Timur, yang dimulai oleh kelompok Pujangga Baru sekitar tahunb1933 dan masih berkembang sampai tahunb1963.
3. Masalah keuniversalan atau ke Nasionalan pernah pula menjadi topik perbincangan di sekitar tahun 50-an.
4. Perbatasan antara satu generasi angkatan dengan angkatan sebelumnya, misalnya antara Chairil Anwar dan Asrul Sani dengan tokoh-tokoh Angkatan Pujangga Baru.
5. Perdebatan tentang ada atau tidak adanya satu angkatan setelah angkatan 45, terutama setelah H.B. Jassin memproklamasikan Angkatan 66.
6. Perdebatan atau polemik tentang ada tidaknya "krisis" dalam kesusastraan Indonesia, yang terjadi pada tahun 50-an.

B. Prinsip-prinsip Kritik Sastra
Kritik sastra merupakan salah satu studi sastra. Studi Sastra meliputi tiga bidang yaitu teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra (Wellek dan Warren dalam Pradopo 2013: 92)). Kritik sastra merupakan studi sastra yang langsung berhadapan dengan karya sastra secara langsung membicarakan karya sastra dengan penekanan pada penilaiannya. Hal ini sesuai dengan pengertian kritik sastra Indonesia modern juga, seperti dikemukakan oleh H.B. Jassin (1959: 44-45) yaitu kritik sastra merupakan pertimbangan baik buruk karya sastra, penerangan dan penghasilan karya sastra.
Kritik sastra digolongkan menjadi tiga (Pradopo, 1988: 17) yaitu, pertama untuk perkembangan ilmu sastra sendiri, kedua untuk perkembangan kesusastraan, dan ketiga untuk penerapan masyarakat pada umumnya yang menginginkan penerangan tentang karya sastra. Kegunaan pertama, kritik sastra dapat membantu penyusunan teori sastra dan sejarah sastra. Kegunaan kedua, kritik sastra membantu perkembangan kesusastraan suatu bangsa dengan menjelaskan baik buruk tanya suatu karya.
Aspek-aspek pokok kritik sastra adalah analisis, interpretasi (penafsiran), dan evaluasi atau penilaian. Karya sastra adalah karya seni. Oleh karena itu harus diterangkan sampai sejauh manakah nilai dari karya tersebut. Untuk menganalisis, menafsirkan dan menilai karya sastra diperlukan orientasi karya sastra. Orientasi tersebut ada empat yaitu, orientasi kinetik, orientasi pragmatis, orientasi ekspresif dan orientasi objektif.
Orientasi mimetik memandang karya sastra sebagai tiruan, cerminan, ataupun representasi alam maupun kehidupan. Kriteria yang dipakai adalah kebenaran. Kemudian Orientasi Pragmatik memandang karya sastra sebagai sarana untuk mencapai tujuan pada pembaca (tujuan keindahan, jenis emosi, ataupun pendidikan). Orientasi ini berfokus pada tujuan. Selanjutnya orientasi ekspresif memandang karya sastra sebagai ekspresi, luapan, ucapan perasaan sebagai hasil imajinasi pengarang, pikiran-pikiran, dan perasaannya. Orientasi ini menimbang pada aspek keaslian, keseharian, atau kecocokan. Orientasi terakhir yaitu, orientasi objektif. Orientasi ini membahas mengenai jenis-jenis kritik sastra guna melihat corak-corak kritik sastra yang pernah dilakukan (ditulis) oleh sastrawan.
Jenis-jenis kritik sastra dapat dikelompokkan berdasarkan bentuknya, metode (penerapan), tipe-tipe kritik sastra, dan penulis kritik sastra. Berdasarkan bentuknya dapat digolongkan menjadi kritik sastra teoritis atau teori kritik (teori pengkritiknya) dan kritik terapan atau kritik praktik (teori penerapan). Berdasarkan metodenya (penerapannya) ada tiga jenis kritik sastra, yaitu kritik induktif, kritik judisial, dan kritik impresionistik. Berdasarkan tipenya kritik atau orientasinya , kritik sastra dapat digolongkan menjadi empat tipe, yaitu tipe kritik mimetik, Pragmatik, ekspresif, dan objektif.
Berdasarkan penulis kritik dan corak kritiknya, kritik sastra dapat digolongkan menjadi kritik sastrawan (kritik umum) dan kritik akademik. Kritik sastrawan ditulis oleh para sastrawan, biasanya bercorak ekspresif dan imperesionistik. Kritik umum ditulis oleh umum yang biasanya bercorak sama dengan kritik sastrawan. Kritikus ini tidak terkenal sebagai sastrawan atau tokoh sastra akademik. Di Indonesia misalnya Jacob Sukarjo dan Wiratno Sukito. Kritik akademik adalah kritik sastra yang ditulis oleh para akademisi sastra dan bercorak ilmiah (Pradopo, 2013: 96).
C. Kritik Sastra Indonesia Modern
Sejak lahirnya yang bersamaan dengan lahirnya kesusastraan Indonesia modern, sekitar tahun 1920 hingga sekarang, kritik sastra Indonesia modern selalu diringibmasalah, baik yang praktis maupun teoretis. Masalah kritik sastra itu meliputi hal-hal di sekitar kurangnya tempat, kurangnya kritikus sastra, tidak cocoknya teori kritik sebagai landasan kritik dengan corak dan wujud kesusastraan Indonesia modern yang bersifat nasional (regional).
Berdasarkan data yang ada, kritik sastra (terapan) Indonesia modern yang pertama ditulis oleh Muhammad Yamin berjudul "Sejarah Melayu" (Jong Sumatera, No. 2-3 The. 1920: 26-28) dan "Syair Bidadari" (Jong Sumatera, No. 6, 1921: 7-10) meskipun keduanya berupa kritik terhadap sastra lama, tetapi gaya dan corak tulisannya bercorak kritik sastra modern yang impresionistik dan ekspresif. Teori kritik sastra, pertama kali didapatkan dalam majalah Panji Pustaka pada masa Balai Pustaka (Pradopo, 2013:96).
Corak aturan pada Balai Pustaka bertipe Pragmatik. Khususnya buku-buku sastra harus diedit, bahkan buku yang bertentangan dengan aturan itu harus diubah atau ditolak sama sekali. Kasus yang terkenal adalah pengubahan naskah Salah Asuhan karya Abdul Muis. Setelah dibenahi buku itu diterbitkan pada tahun 1928 (Junus, 1981: 57). Jadi, sudut pandang atau perspektif Pragmatik itu tidak sesuai dengan sudut pandang (perspektif) pengarang yang ekspresif, yang lebih mengutamakan nilai seni daripada mendidik masyarakat pembaca. Kritik Pragmatik juga bertentangan dengan intensitas pengarang.
Kritik sastra Pujangga Baru dikatakan menjadi pendasar kritik sastra Indonesia modern. Kritik sastra Pujangga Baru disebut pendasar kritik sastra Indonesia modern karena pada kenyataannya gagasan-gagasan, praktik-praktik kritik sastra, dan corak kritik sastra Pujangga baru diteruskan oleh para sastrawan dan kritikus sesudahnya, baik tipe kritiknya yang rkspresif, bercorak impresionistik, bersifat esaistis. Hal ini tampak pada pengertian kritik sastra yang merupakan pertimbangan baik buruk karya sastra, sebagai penerangan untuk perkembangan kesusastraan.
Kritik sastra (terapan) para kritikus-sastrwan Pujangga Baru yang esaistis-impredsionistis yang dipergunakan pula untuk mengemukakan pandangan pribadi tentang sastra dan kebudayaan pada umumnya itu diteruskan oleh para kritikus sastrawan Angkatan 45 seperti H.B. Jassin, Chairil Anwar, Asrul Sani, Ajib Rosidi, Wiratno Sukito, Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, dan sebagainya.
Pada zaman Pujangga Baru ada dua tipe kritik sastra yaitu kritik sastra Pragmatik Sutan Takdir Alisjahbana dan tipe kritik sastra Sanusi Pane yang bersifat ekspresif. Kedua kritik tersebut saling bertentangan. Takdir Alisjahbana menghendaki karya sastra itu berguna bagi pembangunan bangsa, sedangkan Sanusi Pane menghendaki karya sastra itu mengutamakan nilai estetikanya, karya sastra "seni untuk seni". Kedua tipe kritik itu diikuti sampai sekarang. Kritik "jalur" Pragmatik diteruskan lewat kritik Pragmatik "realisme sosialis" Lekra sampai pada sastra dan kritik sastra "kontekstual" Arief Budiman, Ariel Heryanto, dan pengikutnya. Tipe ekspresif kritik Sanusi Pane diteruskan lewat kritik Chairil Anwar, Asrul Sani Subagio Sastrowardoyo, Ajib Rosidi, Wiratno Sukito, Goenawan Mohamad, dan sebagainya.


Dr
Asriningsari, Ambarini. 2013. Jendela Kritik Sastra Indonesia. Universitas PGRI Press: Semarang.
Baribin, Ramainah. 1987. Kritik dan Penilaian Sastra. IKIP Semarang Press: Semarang.
Hardjana, Andre. 1991. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. PT Gramedia Pustaka utama: Jakarta.
Pradopo, Rahmat Djoko. 2013. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Pradopo. Rahmat Djoko. 1988. Beberapa Gagasan dalam Bidang Kritik Sastra Indonesia Modern. Penerbit Lukman: Yogyakarta.
Jassin, H.B. 1959. Tifa Penyair dan Daerahnya. Gunung agung: Jakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Novel surga yang tak Dirindukan 2

Analisisi Novel Surga Yang Tak Dirindukan

Sinopsis Robohnya surau kami